Hingga Penghujung Tahun 2015 – Resolusi 2016

RESO

 

Sebelum membaca tulisan ini lebih jauh, saya menggarisbawahi ini adalah kisah pribadi. Mungkin saja atau pasti ada beberapa hal klise dan sangatlah jelas tidak berlaku untuk semua orang. Ini bukanlah keluhan, permintaan belas kasih, ataupun motivasi. Saya bukanlah tokoh motivator seperti Mr. Golden Ways, saya pun bukanlah makhluk yang ingin dikasihani.

Masalah yang serasa menghujam tanpa henti memenuhi volume otak, menggerogoti organ dan pikiran, dan merenggut waktu. Ya, setiap miligram masalah pasti ada hikmahnya. Saya membuat beberapa poin yang ditujukan untuk diri saya sendiri sebagai evaluasi. Jika kamu ingin mencobanya, silakan saja – semoga berguna untuk introspeksi dan menciptakan resolusi 2016.

  1. Apa Latar Belakang Kamu

Saya terlahir dari dua keluarga besar yang sama-sama mengalami kekalahan atas harta yang membuat keretakan hubungan keluarga. Ya, tidak semua anggota keluarga. Tapi orangtua saya mengalami luka karena hal tersebut. Kedua orangtua saya adalah pekerja keras, berhati lapang, dan penuh kasih sayang. Mewarisi bakat menulis dari Ibu dan kemampuan interpersonal cukup baik dari Bapak.

  1. Deskripsikan Dirimu Sendiri Secara Singkat

Saya adalah sebuah ciptaan Yang Maha Kuasa yang bersyukur telah diberikan nikmat menjalani skenario hidup-Nya.

  1. Apa Cita-Citamu

Cita-cita pertama yang terlintas dalam perjalanan hidup saya adalah menjadi penyiar radio seperti Bapak. Menemukan tulisan-tulisan Ibu, saya ingin menjadi penulis. Berseragam putih merah, saya ingin menjadi tukang gambar. Ya, saat itu saya tak paham apa itu pelukis, komikus, desainer grafis, atau apalah itu sejenisnya. Menikmati film, saya ingin menjadi penulis naskah. Melihat aktivitas stasiun televisi, saya ingin menjadi kru stasiun televisi. Menikmati mengajar, saya ingin menjadi guru. Mengikuti dunia idol, saya ingin menjadi produser atau bagian dari agensi talent. Mengenai guru dan agensi talent, saya lebih ke arah kenikmatan melihat bakat dan perkembangan seseorang.

  1. Apa Tujuan Hidupmu

Menjadi saksi langsung latar belakang keluarga, saya ingin menjadi pondasi yang kokoh untuk harga diri kedua orangtua. Mengalami dan mengamati bullying, saya ingin merangkul siapapun itu untuk bangkit dengan kemampuannya sehingga mampu menjadi pencakar langit atas pijakan yang mereka ciptakan. Mengalami dan mengamati penyesalan atas cinta yang tak terungkap, saya ingin menjadi setidaknya pemicu nuklir ledakan pengungkapan cinta siapapun itu. Semua orang pasti menginginkan keluarga yang bahagia, entah dengan hubungan darah atau tidak, saya ingin menciptakan sebuah kehangatan keluarga untuk siapapun itu. Menyadari dan menikmati tiap senyuman, saya ingin memiliki panti asuhan karena tiap manusia berhak untuk hidup berdampingan dan tersenyum bahagia. Merangkum semuanya, tujuan utama hidup saya adalah membantu sesama dan mengajarkan bagaimana cara tersenyum. Ya, tak sedikit yang mengatakan saya susah untuk tersenyum. Namun tahukah mereka ada senyum dan kebahagiaan tersendiri di tiap senyum dan kebahagiaan mereka yang saya sayangi?

  1. Apa Kemampuanmu

Kemampuan tak seberapa untuk berkomunikasi dengan orang lain, menggali informasi, menggambar, grafis digital, berkomunitas, desain web, “membaca”, dan berbagai hal kecil lain. Satu-satunya kemampuan yang paling saya bisa hanyalah menulis, itupun sebatas menulis cerita fiksi. Ya, walaupun tak sepenuhnya fiksi, apapun yang telah tercampur dengan imaji adalah cerita fiksi.

  1. Apa Masalah Yang Menjadi Kejadian Penting Dalam Hidupmu

Masa kecil yang sering menjadi “anak titipan” sehingga berharap mampu berikan waktu lebih untuk anak cucu kelak, slipping ribs di area dada yang membuat organ dalam serasa tercabik-cabik sehingga untuk bernafas dan tertawa saja menyiksa, tulang ekor bermasalah karena jatuh semasa kecil sehingga terdampar di kasur adalah pilihan terbaik saat kambuh, mata silindris yang membuat tidak nyaman saat berkendara karena ada masalah dalam menentukan jarak, keseimbangan yang kurang baik sebagaimana yang dialami saat vertigo, anxiety disorder yang seringkali datang tanpa diundang, alergi terhadap beberapa jenis makanan yang dapat membuat tato merah di sekujur tubuh, nadi di kaki yang terbelah karena kecelakaan sehingga tak mampu terlalu lama berdiri, sempat menyayangkan kehadiran Si Jagoan Kecil dan membuat saya merasa sangat hina karena sempat tak mensyukuri berkah dari-Nya, kecelakaan di jembatan layang Janti yang membuat saya beberapa saat berada di ruang tanpa jeda namun disadarkan kembali oleh-Nya, dan ketidakmampuan menahan beban masalah hingga pernah melakukan usaha bunuh diri namun keajaiban-Nya terjadi.

  1. Apa Solusi Atas Masalah Tersebut

Yakin dan percaya semua ada hikmahnya. Tetap menjalani skenario Sang Pencipta dengan ikhlas.

  1. Deskripsikan Kondisimu Saat Ini

Sekarang saya hanyalah pengangguran dengan masa depan tak jelas terlihat mata. Saya lebih memilih bekerja freelance dan tak berada di kantor karena saya tak bisa menentukan kapan masalah fisik dan psikis saya muncul serta seberapa jauh saya mampu mengatasinya dalam kondisi kerja. Bukan saya tak mau menerima tawaran pekerjaan atau mencoba bekerja di luar Jogja, saya telah melakukan perjalanan dan pengamatan yang menghasilkan sebuah poin bahwa di sinilah tempat saya paling bisa mengontrol beberapa masalah. Ya, meskipun memang jauh dari 100%. Jakarta saya ambil sebagai contoh; penuh dengan lalu lintas yang padat, tempat yang ramai dan bising. Saya hampir terkapar dari kendaraan karena terserang gangguan psikis yang menyebalkan ini. Untung saja saya masih bisa sadar dan tak jadi merepotkan teman karena dia harus mengurus saya yang hilang dari boncengan dan menjadi mayat. Jogja? Belum lama ini saya mendapatkan pekerjaan sebagai content writer. Saya senang bisa mengenal teman-teman kerja yang sangat ramah bagi saya. Namun Ya, lagi-lagi masalah pribadi saya menjadi kontradiksi dengan etos kerja kantor tersebut. Daripada saya mengganggu efektivitas tim, saya memilih untuk resign dari pekerjaan. Ada yang bilang, sayapun juga, fee menjadi masalah. Ya, saya akui memang fee nya kurang mencukupi. Tapi yang saya cari selain itu adalah good environment! Saking mengenanya kisah di tempat itu, mungkin ada semingguan saya memikirkan ide-ide dalam mimpi, terbangun dan bergegas untuk bekerja. Begitu tersadar saya telah memutuskan resign, saya hanya bisa tersenyum. Hanya sebentar, tapi saya merasa aura keluarga di tempat itu. Yang terutama saat ini, saya belum bisa membahagiakan orangtua saya.

  1. Apa Harapan Jangka Pendek dan Panjangmu Saat Ini

Dalam jangka pendek, saya ingin mendapatkan pekerjaan dan membayar kost. Terdengar sederhana, iya sederhana, namun sekali lagi memang tiap orang berbeda kondisinya. Ya, saya tau kok mencari pekerjaan itu bukan hal yang gampang, tau. Mungkin kalau saya masih lancar orderan freelance seperti dulu, saya ga berpikiran jangka pendek seperti ini. Jangka panjang sih pengen bahagiain orang tua hingga akhir hayat. Kenapa jangka panjang? Karena seberapapun usaha seorang anak, ga akan bakal bisa menyaingi kasih orangtua. Karena jangka panjang versi saya ini adalah yang akan saya lakukan masa ini hingga masa akhir, bukan kapan saya bisa karena tak akan bisa menyamai. Seberapa buruknya saya di mata orang lain, saya ingin menebarkan kebahagiaan untuk semua, untuk mereka yang berhak untuk mendapatkan kebahagiaan.

  1. Apa Harapan Tak Berjangka Saat Ini

Menikah. Ya, menikah. Perjalanan cinta saya memang tak berjalan mulus. Mungkin bagian dari sikap overprotektif dan ambisius saya membuat mereka meninggalkan saya. Mungkin juga saya terlalu membosankan untuk mereka. Karena beberapa kejadian menjadi pihak yang ditinggalkan, membentuk pola pikir saya untuk tidak menikah. Kepercayaan, pemahaman, dan kasih sayang adalah pondasi penting bagi saya. Hal itu membentuk kerelaan dan keikhlasan akan jodoh. Pemikiran untuk tidak menikah berubah setelah saya menemui seorang perempuan yang saya kenal di Desember 2014. Banyak turning points yang terjadi dalam hidup saya bersamanya. Kita telah berpikiran untuk menyisihkan uang untuk membangun sebuah rumah. Saya berusaha apa saja yang saya bisa di sela waktu mencari informasi mengenai tempat tinggal yang mampu saya dapatkan. Bercerita tentang keluarga, diskusi mengenai masa depan kita berdua seperti pekerjaan dan jumlah anak, dan lain-lain. Namun lagi-lagi semua harus berakhir. Ya, tak sepenuhnya berakhir karena kita masih menjaga komunikasi. Tak berjangka. Ya, untuk saat ini menikah adalah harapan tak berjangka saya. Saya menyadari kondisi saya saat ini yang hanya akan membawa penderitaan bagi pasangan. Mungkin saja pemikiran untuk tidak menikah kembali lagi mendapatkan prosentase tertinggi. Tapi Ya, nampaknya akan lebih bahagia jika memiliki pasangan hidup yang terjalin dalam hubungan pernikahan.  Sebuah hubungan yang mungkin bisa membawa saya kembali pulang dan mengembangkan usaha keluarga bersamanya. Saya juga ingin memberikan seorang anak gadis yang cantik untuk Ibu saya. Mungkin benar adanya Tuhan memberikan kita pasangan yang kurang tepat sebelum kita dipertemukan dengan jodoh kita.

  1. Apa yang Kamu Simpulkan

Banyak kegagalan yang terjadi dan harapan yang belum mampu tergapai. Meskipun begitu adanya, saya harus  tetap bersemangat untuk menjalani dan  mensyukuri berkah-Nya. Menilik kegagalan pribadi, mungkin saja nafas yang ditiupkan pada roh saya memang untuk membantu sesama dan menebar kebahagiaan seberapapun sulitnya menancapkan pondasi untuk diri sendiri. Saya akan tetap berusaha semaksimal mungkin dan memasrahkan semua skenario pada-Nya. Mungkin saja saya harus mencoba menyerah dan pulang untuk mengembangkan usaha keluarga. Yah, mungkin memang terasa bukan seperti kesimpulan. Namun itulah yang bisa saya simpulkan saat ini.

  1. Resolusi 2016

Tetap menjalani pengalaman hidup dengan keputusan-keputusan yang mungkin saja salah entah disadari dari awal atau tidak, untuk menciptakan sebuah keputusan yang tepat. Apapun keputusan itu, di dalamnya selalu ada harapan untuk membahagiakan orangtua. The most of all is to keep strong on my path of life; helping others and teach how to smile.

Yap, sekian tulisan kali ini. Hari ini bertepatan dengan Hari Ibu. Saya tak menulis apapun tentang hari ini? Well, saya rasa kapanpun itu adalah hari untuk sayang dan menghargai sosok ibu. Tulisan saya terdahulu kurang lebih bisa menjelaskan tentang Ibu saya. Baca: Selamat Ulang Tahun Ibu.

FacebookTwitterGoogle+PinterestTumblrLiveJournalLineWhatsAppShare